LATAR BELAKANG

Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) tinggi badan akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan (Bloem et al, 2013). Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai (Kusharisupeni, 2002).Indikator yang digunakan untuk mengidentifikasi balita stunting adalah berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) menurut standar WHO child growth standart dengan kriteria stunting jika nilai z score TB/U < -2 Standard Deviasi (SD) (Picauly & Toy, 2013).Periode balita merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi (Mucha, 2013).

WHO menggunakan cut of point prevelensi stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berat bila mencapai 30 – 39% dan menjadi masalah serius bila prevalensinya ≥ 40% (WHO, 2010).Berdasarkan batasan tersebut, maka secara global stunting merupakan masalah dunia, karena beberapa negara angka kejadian stunting di atas 30%.World Health Statistics melaporkan bahwa prevalensi stunting di dunia sebesar 26,7% (WHO, 2012). Laporan UNICEF memposisikan Indonesia masuk dalam lima besar negara dengan jumlah anak dibawah lima tahun yang mengalami stunting tinggi (UNICEF, 2013a). Kondisi prevalensi stunting di Indonesia menunjukkan masalah besar bahkan masalah serius, dan variasi yang sangat lebar antar propinsi, dengan prevalensi stunting terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara Timur. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukkan bahwa prevalensi stunting secara nasional tahun 2013 adalah 37,2%, terdiri dari 18,0% sangat pendek dan 19,2 % pendek. Angka ini menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Pada tahun 2013 prevalensi sangat pendek menunjukkan penurunan, dari 18,8% tahun 2007 dan 18,5% tahun 2010. Prevalensi pendek meningkat dari 18,0% pada tahun 2007 menjadi 19,2% pada tahun 2013. Indonesia dengan 34 propinsi, sebanyak 14 provinsi termasuk prevalensi stunting kategori berat, dan sebanyak 15 provinsi termasuk kategori serius. (Balitbangkes, 2013).Hal ini menunjukkan bahwa penanggulangan stunting harus menjadi prioritas karena prevalensinya yang merupakan masalah berat bahkan masalah serius dengan dampak yang luas dan berlanjut dalam siklus kehidupan.

Stunting termasuk masalah kesehatan masyarakat karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan motorik terlambat, dan terhambatnya pertumbuhan mental (Purwandini, 2013). Balita stunting cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi, sehingga berisiko mengalami penurunan kualitas belajar di sekolah dan berisiko lebih sering absen (Yunitasari, 2012), mengalami penurunan prestasi akademik yang selanjutnya akan berpengaruh pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (Unicef, 2013; Unicef Indonesia, 2013). Balita stunting memiliki risiko terjadinya penurunan kemampuan intelektual (Picauly & Toy, 2013), produktivitas rendah (Anugraheni, 2013), lebih rentan terhadap penyakit tidak menular (Unicef Indonesia, 2013) dan peningkatan risiko penyakit degeneratif di masa mendatang (Picauly & Toy, 2013; WHO, 2013; Crookston et al, 2013). Stunting juga meningkatkan risiko obesitas, karena orang dengan tubuh stunting berat badan idealnya juga rendah.Kenaikan berat badan beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Massa Tubuh (IMT) orang tersebut naik melebihi batas normal (Hoffman et al., 2000; Timaeus, 2012). Keadaan overweight dan obesitas yang terus berlangsung lama akan meningkatan risiko kejadian penyakit degeneratif (Anugraheni, 2013). Penelitian kohort prospektif di Jamaika, balita stunting juga berpengaruh pada gangguan perkembangan psikologi pada usia remaja, remaja lebih tinggi tingkat kecemasan, gejala depresi, dan memiliki harga diri (self esteem) rendah dibandingkan dengan remaja yang tidak terhambat stunting saat balita. Anak yang mengalami gangguan pertumbuhan sebelum berusia 2 tahun memiliki emosi dan perilaku yang buruk pada masa remaja akhir (Walker et al., 2007).

Banyak faktor yang menyebabkan tingginya masalah gizi pada balita.UNICEF (1990) mengembangkan kerangka teori bahwa status gizi, cacat dan kematian anak dipengaruhi oleh penyebab langsung dan tidak langsung.Asupan makanan yang kurang dan penyakit infeksi merupakan penyebab langsung terjadinya status gizi kurang.Penyebab tidak langsung adalah kurang ketersediaan pangan di rumah tangga, kurang perawatan ibu hamil dan anak, buruknya kualitas air/sanitasi lingkungan dan kurang pemanfaatan pelayanan kesehatan.Penyebab langsung dan tidak langsung juga dipengaruhi oleh masalah utama berupa kemiskinan, pendidikan rendah, lapangan kerja, ketersediaan pangan di masyarakat dan masalah dasar berupa krisis ekonomi dan politik (Hoffman, 2000).

Berbagai hasil penelitian menemukan faktor risiko stunting bersifat multifaktor,  diantaranya adalah panjang badan lahir, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan dan tinggi badan orang tua. Panjang badan lahir pendek merupakan salah satu faktor risiko stunting pada balita.Ibu dengan tinggi badan pendek lebih berpeluang untuk melahirkan anak yang pendek pula.Penelitian di Mesir menunjukkan bahwa anak yang lahir dari Ibu dengan tinggi badan kurang dari 150 cm lebih berisiko untuk tumbuh stunting (Zottarelli, 2007).  Penelitian di Semarang menunjukkan bahwa tinggi badan Ibu dan ayah yang pendek merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 12-36 bulan (Candra, 2011; Nasikhah, 2012). Penelitian di wilayah miskin Peru menunjukkan bahwa stunting disebabkan karena defisiensi zat gizi dan infeksi (Victoria, 1998). Sementara Reyes et al (2004) meneliti di wilayah perdesaan dan perkotaan miskin Meksiko menemukan faktor pelindung (protektif) anak dari stunting adalah faktor pengasuhan.Anak-anak yang dirawat secara eksklusif oleh ibu terbukti terhindar dari stunting.Status ekonomi keluarga dan pendidikan orang tua juga merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita.Anak pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah lebih berisiko mengalami stunting karena kemampuan pemenuhan gizi yang rendah, meningkatkan risiko terjadinya malnutrisi (Fernald, 2007). Zottarelli et al (2007) membuktikan bahwa prevalensi balita stunting meningkat dengan rendahnya tingkat pendidikan ibu. Prevalensi stunting pada ibu dan ayah berpendidikan rendah adalah 22,56% dan 23,26%, sementara pada ibu dan ayah berpendidikan yang tinggi adalah 13,81% dan 12,53%. Ramli et al (2009) menemukan bahwa di Maluku Utara usia anak, jenis kelamin anak, jumlah makanan keluarga per hari, pendapatan serta pekerjaan ayah merupakan faktor risiko stunting.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui program Scalling-Up Nutrition Movement (SUN Movement) melakukan intervensi yang berfokus pada 1000 hari pertama kehidupan untuk mencegah dan menanggulangi masalah gizi termasuk stunting (SUN, 2012).Pemerintah Indonesia juga menjadi bagian SUN Movement dengan membuat kebijakan gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang diperkuat dengan Peraturan Presiden RI No. 42 tahun 2013.Komite SUN Inggris merekomendasikan intervensi yang spesifik dan intervensi sensitif.Intervensi spesifik, berupa tindakan atau kegiatan yang ditujukan khusus untuk kelompok 1000 HPK, bersifat jangka pendek dan hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Kegiatan umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, seperti imunisasi, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ibu hamil dan PMT balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI Eksklusif, Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dan sebagainya. Sedangkan intervensi sensitif adalah kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan, berupa penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain. Dampak kombinasi dari kegiatan spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka panjang (Department for International Development, 2011). Berbagai upaya sensitif dan spesifik telah dilakukan untuk perbaikan gizi ibu hamil, bayi dan balita namun kenyataannya masalah stunting masih tinggi (SUN, 2012). Hal ini dikarenakan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial dan kesehatan sambil menerapkan intervensi sensitive untuk mengatasi stunting anak masih mengalami banyak kendala seperti masalah biaya yang besar, infra stuktur, kebijakan politis, pendidikan yang rendah serta status ekonomi. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara faktor demografi dengan kejadian stunting. Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung memiliki anak yang terhambat dan kurang dapat memperoleh informasi spesifik tentang stunting. Ibu dengan penghasilan rendah dan tingkat pendidikan yang rendah kemungkinan mengalami lebih banyak kesulitan dalam mendapatkan makanan yang cukup, bergizi dan beragam (WHO 2018).

Berdasarkan adanya kelemahan dari intervensi sensitif berupa kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan, berupa penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain maka Poltekkes Kemnekes Bengkulu akan mengembangkan Pusat Unggulan Institusi penangulangan stunting berbasis Kesehatan Ibu dan Anak. Dalam pusat unggulan ini kami menekankan intervensi penggulangan stunting pada intervensi spesifik berbaisis kesehatan ibu dan anak, karena ibu merupakan orang yang lansung berkaitan dengan anak sepanjang daur kehidupan sehingga kesehatan ibu perlu diperhatikan.

Kami memfasilitasi ibu-ibu dalam mengembangkan pengetahuan agar dapat meningkatkan kualitas makanan yang dikonsumsi, memilih makanan yang bergizi dari lingkungan sekitar sehingga sesuai dengan standar kesehatan. Selain itu memberikan pengetahuan pada ibu tentang penyakit penyakit yang dapat meningkatkan risiko stunting, memfasilitasi pendidikan kelas ibu, pendidikan tentang konsumsi air bersih yang sesuai standar kesehatan dan program lainnya yang berhubungan dengan siklus hidup ibu dan anak. Kami percaya bahwa penanggulangan stunting berbasis kesehatan ibu dan anak dapat meningkatkan keberhasilan intervensi sensitive yang juga dapat melakukan beberapa intervensi spesifik pada kelompok sasaran.

Intervensi spesifik berbasis kesehatan ibu dan anak ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir dan anak dan remaja putri dapat disampaikan melalui pemberian layanan berbasis masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi stunting. Program untuk suplementasi asam folat, suplementasi mikronutrien multipel, pemberian vitamin K, atau pemberian ASI eksklusif, serta perawatan antenatal, perinatal dan postnatal dilakukan melalui upaya berbasis kesehatan ibu dan anak. Upaya layanan berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan skill of life ibu perlu diupayakan karena memiliki potensi untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak pada populasi yang sulit dijangkau. Dengan dikembangkannya Pusat Unggulan Institusi penangulangan stunting berbasis Kesehatan Ibu dan Anak dipilih oleh Poltekkes Kemnekes Bengkulu diharapkan prevalensi stunting di Provinsi Bengkulu yang saat ini sebesar 27,5% dapat terus menurun (Riskesdas 2018)

Pemilihan Pusat Unggulan Penanggulangan Stunting Berbasis Kesehatan Ibu Dan Anak juga dilakukan berdasarkan capaian yang telah dilakukan yaitu:

  1. Hibah Penelitian Stategi Nasional Tahun 2019 tentang Efektivitas Intervensi Spesifik mellaui pendampingan Keluarga dalam pencegahan Stunting Berdasarkan Kelompok Periode 1000 hari pertama kehidupan
  2. Hibah Kementerian Agama (Kanwil Agama Propinsi Begkulu) : Pemberdayaan Dan Pendampingan Petugas Konselor sebagai upaya  pencegahan Stunting di KUA Wilayah Kota Bengkulu Tahun 2018
  3. Hibah Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu : Pendampingan 1000 Ibu Hamil Resiko Tinggi Propinsi Bengkulu
  4. Hibah BKKN Tahun 2015 : Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dengan mitra atau jejaring yaitu bekerjasama dengan BKKBN Propinsi Bengkulu, Tentang pembentukan dan pembinanan PIK-R, BKR, UPPKS, BKL, PIK-R Community, PIK-R Restupas
  5. Hibah Badan Litbangkes Kemenkes RI Tahun 2014 penelitian Modifikasi Budaya Merunggu Pada Ibu Bersalin Suku Srawai dalam pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, IMD dan ASI ekslusif di Desa Puguk Kabupaten Seluma
  6. Hibah DIPA BPPSDM : Pengembangan makanan lumat siap santap berbasis tepung lokal dan F100 sebagai makanan selingan pada balita gizi kurang.
  7. Hibah Balitbang Provinsi Bengkulu: Kajian pengembangan Industri pangan lokal untuk memenuhi standar mutu berkelanjutan,
  8. Hibah BKKBN Pusat Tahun 2017: Pengaruh pemberdayaan kader gemari terhadapat pengetahun,sikap ibu usia remaja dalam perencanaan keluarga di Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2017
  9. Hibah BKKBN Pusat Tahun 2018: Model hubungan usia pernikahan dan kehamilan usia remaja dengan kejadian stunting pada balita dan analisis kebijakan pendewasaaan usia perkawinan di Provinsi Bengkulu;
  10. Hibah Internasional: Hibah Neys-Van Hoogstragen Foundation (NHF) Tahun 2015 Determinan factors of vitamin D status of female worker at childbearing age.
  11. Hibah Internasional: Hibah Neys-Van Hoogstragen Foundation (NHF) Tahun 2016 ; Income contribution, food consumptionIron deficincy anemia among women worker in Tea plantation an effect ol multinutriens supplement with nutrition education to increase their productivity
  12. Hibah Internasional ; Hibah Neys-Van Hoogstragen Foundation (NHF)  Tahun 2017: Identification , preferensi and nutritional contribusi of traditional food  in the consumption pattern of households of farmers and fisherman in Bengkulu.

Berdasarkan capaian di atas, maka disadari akan pentingnya keberadaan suatu organisasi CoE (Centre of Excellence) atau Pusat Unggulan IPTEKS yang menaungi aktifitas yang berkaitan dengan upaya penanggulangan stunting. Selain itu Surat Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor: 316 DINKES Tahun 2018 tentang Pembentukkan Kelompok Kerja Daerah Skrining Bayi Baru Lahir Provinsi Bengkulu merupakan salah satu bentuk dukungan kebijakan Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam penanggulangan stunting melalui skrining hipertiroid congenital, oleh karena itu Poltekkes Kemenkes Bengkulu membentuk kelompok kerja dalam penanggulangan stunting. Mengingat upaya pencegahan stunting dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan melalui pengelolaan kesehatan ibu hamil, peningkatan kesehatan pada masa bayi dan balita serta anak remaja dalam rangka persiapan menjadi ibu. Penanggulangan stunting dapat dilakukan melalui perawatan kesehatan ibu sepanjang daur kehidupan melalui persiapan remaja puti sebagai calon pengantin, pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemberian ASI Ekslusif, penyediaan lingkungan sehat, MP ASI berkualitas, makanan yang cukup dan berkualitas serta perilaku hidup bersih dan sehat.

Dengan dilakukannya studi-studi yang berkaitan dengan penanggulangan stunting melalui upaya berbasis kesehatan ibu dan anak maka diharapkan akan terjadi peningkatan  ilmu pengetahuan dan tehnologi serta akan menghasilkan produk penelitian yang dipublikasi pada jurnal internasional bereputasi dan nasional terakreditasi. Pengalaman metode pemecahan masalah melalui penanganan yang bersifat interprofesional kolaborasi akan meningkatkan luaran penelitian dan menghasilkan sumber daya manusia yang mampu bersaing secara global. Hasil produk terkait dengan peanggulangan stunting dapat dilakukan komersialisasi produk sehingga meningkatkan kemandirian institusi.

Stunting merupakan bentuk kegagalan pertumbuhan (growth faltering) tinggi badan akibat akumulasi ketidakcukupan nutrisi yang berlangsung lama mulai dari kehamilan sampai usia 24 bulan (Bloem et al, 2013). Keadaan ini diperparah dengan tidak terimbanginya kejar tumbuh (catch up growth) yang memadai (Kusharisupeni, 2002).Indikator yang digunakan untuk mengidentifikasi balita stunting adalah berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) menurut standar WHO child growth standart dengan kriteria stunting jika nilai z score TB/U < -2 Standard Deviasi (SD) (Picauly & Toy, 2013).Periode balita merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan sehingga disebut dengan periode emas. Periode ini merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi (Mucha, 2013).

WHO menggunakan cut of point prevelensi stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang berat bila mencapai 30 – 39% dan menjadi masalah serius bila prevalensinya ≥ 40% (WHO, 2010).Berdasarkan batasan tersebut, maka secara global stunting merupakan masalah dunia, karena beberapa negara angka kejadian stunting di atas 30%.World Health Statistics melaporkan bahwa prevalensi stunting di dunia sebesar 26,7% (WHO, 2012). Laporan UNICEF memposisikan Indonesia masuk dalam lima besar negara dengan jumlah anak dibawah lima tahun yang mengalami stunting tinggi (UNICEF, 2013a). Kondisi prevalensi stunting di Indonesia menunjukkan masalah besar bahkan masalah serius, dan variasi yang sangat lebar antar propinsi, dengan prevalensi stunting terendah di Kepulauan Riau, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Kalimantan Timur (<30%) sampai yang tertinggi (>50%) di Nusa Tenggara Timur. Laporan Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukkan bahwa prevalensi stunting secara nasional tahun 2013 adalah 37,2%, terdiri dari 18,0% sangat pendek dan 19,2 % pendek. Angka ini menunjukkan terjadi peningkatan prevalensi dibandingkan tahun 2010 (35,6%) dan 2007 (36,8%). Pada tahun 2013 prevalensi sangat pendek menunjukkan penurunan, dari 18,8% tahun 2007 dan 18,5% tahun 2010. Prevalensi pendek meningkat dari 18,0% pada tahun 2007 menjadi 19,2% pada tahun 2013. Indonesia dengan 34 propinsi, sebanyak 14 provinsi termasuk prevalensi stunting kategori berat, dan sebanyak 15 provinsi termasuk kategori serius. (Balitbangkes, 2013).Hal ini menunjukkan bahwa penanggulangan stunting harus menjadi prioritas karena prevalensinya yang merupakan masalah berat bahkan masalah serius dengan dampak yang luas dan berlanjut dalam siklus kehidupan.

Stunting termasuk masalah kesehatan masyarakat karena berhubungan dengan meningkatnya risiko terjadinya kesakitan dan kematian, perkembangan motorik terlambat, dan terhambatnya pertumbuhan mental (Purwandini, 2013). Balita stunting cenderung lebih rentan terhadap penyakit infeksi, sehingga berisiko mengalami penurunan kualitas belajar di sekolah dan berisiko lebih sering absen (Yunitasari, 2012), mengalami penurunan prestasi akademik yang selanjutnya akan berpengaruh pada rendahnya kualitas sumber daya manusia (Unicef, 2013; Unicef Indonesia, 2013). Balita stunting memiliki risiko terjadinya penurunan kemampuan intelektual (Picauly & Toy, 2013), produktivitas rendah (Anugraheni, 2013), lebih rentan terhadap penyakit tidak menular (Unicef Indonesia, 2013) dan peningkatan risiko penyakit degeneratif di masa mendatang (Picauly & Toy, 2013; WHO, 2013; Crookston et al, 2013). Stunting juga meningkatkan risiko obesitas, karena orang dengan tubuh stunting berat badan idealnya juga rendah.Kenaikan berat badan beberapa kilogram saja bisa menjadikan Indeks Massa Tubuh (IMT) orang tersebut naik melebihi batas normal (Hoffman et al., 2000; Timaeus, 2012). Keadaan overweight dan obesitas yang terus berlangsung lama akan meningkatan risiko kejadian penyakit degeneratif (Anugraheni, 2013). Penelitian kohort prospektif di Jamaika, balita stunting juga berpengaruh pada gangguan perkembangan psikologi pada usia remaja, remaja lebih tinggi tingkat kecemasan, gejala depresi, dan memiliki harga diri (self esteem) rendah dibandingkan dengan remaja yang tidak terhambat stunting saat balita. Anak yang mengalami gangguan pertumbuhan sebelum berusia 2 tahun memiliki emosi dan perilaku yang buruk pada masa remaja akhir (Walker et al., 2007).

Banyak faktor yang menyebabkan tingginya masalah gizi pada balita.UNICEF (1990) mengembangkan kerangka teori bahwa status gizi, cacat dan kematian anak dipengaruhi oleh penyebab langsung dan tidak langsung.Asupan makanan yang kurang dan penyakit infeksi merupakan penyebab langsung terjadinya status gizi kurang.Penyebab tidak langsung adalah kurang ketersediaan pangan di rumah tangga, kurang perawatan ibu hamil dan anak, buruknya kualitas air/sanitasi lingkungan dan kurang pemanfaatan pelayanan kesehatan.Penyebab langsung dan tidak langsung juga dipengaruhi oleh masalah utama berupa kemiskinan, pendidikan rendah, lapangan kerja, ketersediaan pangan di masyarakat dan masalah dasar berupa krisis ekonomi dan politik (Hoffman, 2000).

Berbagai hasil penelitian menemukan faktor risiko stunting bersifat multifaktor,  diantaranya adalah panjang badan lahir, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan dan tinggi badan orang tua. Panjang badan lahir pendek merupakan salah satu faktor risiko stunting pada balita.Ibu dengan tinggi badan pendek lebih berpeluang untuk melahirkan anak yang pendek pula.Penelitian di Mesir menunjukkan bahwa anak yang lahir dari Ibu dengan tinggi badan kurang dari 150 cm lebih berisiko untuk tumbuh stunting (Zottarelli, 2007).  Penelitian di Semarang menunjukkan bahwa tinggi badan Ibu dan ayah yang pendek merupakan faktor risiko stunting pada anak usia 12-36 bulan (Candra, 2011; Nasikhah, 2012). Penelitian di wilayah miskin Peru menunjukkan bahwa stunting disebabkan karena defisiensi zat gizi dan infeksi (Victoria, 1998). Sementara Reyes et al (2004) meneliti di wilayah perdesaan dan perkotaan miskin Meksiko menemukan faktor pelindung (protektif) anak dari stunting adalah faktor pengasuhan.Anak-anak yang dirawat secara eksklusif oleh ibu terbukti terhindar dari stunting.Status ekonomi keluarga dan pendidikan orang tua juga merupakan faktor risiko kejadian stunting pada balita.Anak pada keluarga dengan tingkat ekonomi rendah lebih berisiko mengalami stunting karena kemampuan pemenuhan gizi yang rendah, meningkatkan risiko terjadinya malnutrisi (Fernald, 2007). Zottarelli et al (2007) membuktikan bahwa prevalensi balita stunting meningkat dengan rendahnya tingkat pendidikan ibu. Prevalensi stunting pada ibu dan ayah berpendidikan rendah adalah 22,56% dan 23,26%, sementara pada ibu dan ayah berpendidikan yang tinggi adalah 13,81% dan 12,53%. Ramli et al (2009) menemukan bahwa di Maluku Utara usia anak, jenis kelamin anak, jumlah makanan keluarga per hari, pendapatan serta pekerjaan ayah merupakan faktor risiko stunting.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui program Scalling-Up Nutrition Movement (SUN Movement) melakukan intervensi yang berfokus pada 1000 hari pertama kehidupan untuk mencegah dan menanggulangi masalah gizi termasuk stunting (SUN, 2012).Pemerintah Indonesia juga menjadi bagian SUN Movement dengan membuat kebijakan gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang diperkuat dengan Peraturan Presiden RI No. 42 tahun 2013.Komite SUN Inggris merekomendasikan intervensi yang spesifik dan intervensi sensitif.Intervensi spesifik, berupa tindakan atau kegiatan yang ditujukan khusus untuk kelompok 1000 HPK, bersifat jangka pendek dan hasilnya dapat dicatat dalam waktu relatif pendek. Kegiatan umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan, seperti imunisasi, Pemberian Makanan Tambahan (PMT) ibu hamil dan PMT balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu, suplemen tablet besi-folat ibu hamil, promosi ASI Eksklusif, Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) dan sebagainya. Sedangkan intervensi sensitif adalah kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan, berupa penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain. Dampak kombinasi dari kegiatan spesifik dan sensitif bersifat langgeng (sustainable) dan jangka panjang (Department for International Development, 2011). Berbagai upaya sensitif dan spesifik telah dilakukan untuk perbaikan gizi ibu hamil, bayi dan balita namun kenyataannya masalah stunting masih tinggi (SUN, 2012). Hal ini dikarenakan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam mengatasi ketidaksetaraan sosial dan kesehatan sambil menerapkan intervensi sensitive untuk mengatasi stunting anak masih mengalami banyak kendala seperti masalah biaya yang besar, infra stuktur, kebijakan politis, pendidikan yang rendah serta status ekonomi. Hal ini dikarenakan adanya keterkaitan antara faktor demografi dengan kejadian stunting. Ibu dengan tingkat pendidikan yang lebih rendah cenderung memiliki anak yang terhambat dan kurang dapat memperoleh informasi spesifik tentang stunting. Ibu dengan penghasilan rendah dan tingkat pendidikan yang rendah kemungkinan mengalami lebih banyak kesulitan dalam mendapatkan makanan yang cukup, bergizi dan beragam (WHO 2018).

Berdasarkan adanya kelemahan dari intervensi sensitif berupa kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan, berupa penyediaan air bersih, sarana sanitasi, berbagai penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan dan gizi, fortifikasi pangan, pendidikan dan KIE Gizi, pendidikan dan KIE Kesehatan, kesetaraan gender, dan lain-lain maka Poltekkes Kemnekes Bengkulu akan mengembangkan Pusat Unggulan Institusi penangulangan stunting berbasis Kesehatan Ibu dan Anak. Dalam pusat unggulan ini kami menekankan intervensi penggulangan stunting pada intervensi spesifik berbaisis kesehatan ibu dan anak, karena ibu merupakan orang yang lansung berkaitan dengan anak sepanjang daur kehidupan sehingga kesehatan ibu perlu diperhatikan.

Kami memfasilitasi ibu-ibu dalam mengembangkan pengetahuan agar dapat meningkatkan kualitas makanan yang dikonsumsi, memilih makanan yang bergizi dari lingkungan sekitar sehingga sesuai dengan standar kesehatan. Selain itu memberikan pengetahuan pada ibu tentang penyakit penyakit yang dapat meningkatkan risiko stunting, memfasilitasi pendidikan kelas ibu, pendidikan tentang konsumsi air bersih yang sesuai standar kesehatan dan program lainnya yang berhubungan dengan siklus hidup ibu dan anak. Kami percaya bahwa penanggulangan stunting berbasis kesehatan ibu dan anak dapat meningkatkan keberhasilan intervensi sensitive yang juga dapat melakukan beberapa intervensi spesifik pada kelompok sasaran.

Intervensi spesifik berbasis kesehatan ibu dan anak ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan ibu hamil, bayi baru lahir dan anak dan remaja putri dapat disampaikan melalui pemberian layanan berbasis masyarakat untuk mencegah dan menanggulangi stunting. Program untuk suplementasi asam folat, suplementasi mikronutrien multipel, pemberian vitamin K, atau pemberian ASI eksklusif, serta perawatan antenatal, perinatal dan postnatal dilakukan melalui upaya berbasis kesehatan ibu dan anak. Upaya layanan berbasis masyarakat yang bertujuan meningkatkan skill of life ibu perlu diupayakan karena memiliki potensi untuk meningkatkan kesehatan dan gizi anak pada populasi yang sulit dijangkau. Dengan dikembangkannya Pusat Unggulan Institusi penangulangan stunting berbasis Kesehatan Ibu dan Anak dipilih oleh Poltekkes Kemnekes Bengkulu diharapkan prevalensi stunting di Provinsi Bengkulu yang saat ini sebesar 27,5% dapat terus menurun (Riskesdas 2018)

Pemilihan Pusat Unggulan Penanggulangan Stunting Berbasis Kesehatan Ibu Dan Anak juga dilakukan berdasarkan capaian yang telah dilakukan yaitu:

  1. Hibah Penelitian Stategi Nasional Tahun 2019 tentang Efektivitas Intervensi Spesifik mellaui pendampingan Keluarga dalam pencegahan Stunting Berdasarkan Kelompok Periode 1000 hari pertama kehidupan
  2. Hibah Kementerian Agama (Kanwil Agama Propinsi Begkulu) : Pemberdayaan Dan Pendampingan Petugas Konselor sebagai upaya  pencegahan Stunting di KUA Wilayah Kota Bengkulu Tahun 2018
  3. Hibah Dinas Kesehatan Propinsi Bengkulu : Pendampingan 1000 Ibu Hamil Resiko Tinggi Propinsi Bengkulu
  4. Hibah BKKN Tahun 2015 : Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dengan mitra atau jejaring yaitu bekerjasama dengan BKKBN Propinsi Bengkulu, Tentang pembentukan dan pembinanan PIK-R, BKR, UPPKS, BKL, PIK-R Community, PIK-R Restupas
  5. Hibah Badan Litbangkes Kemenkes RI Tahun 2014 penelitian Modifikasi Budaya Merunggu Pada Ibu Bersalin Suku Srawai dalam pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan, IMD dan ASI ekslusif di Desa Puguk Kabupaten Seluma
  6. Hibah DIPA BPPSDM : Pengembangan makanan lumat siap santap berbasis tepung lokal dan F100 sebagai makanan selingan pada balita gizi kurang.
  7. Hibah Balitbang Provinsi Bengkulu: Kajian pengembangan Industri pangan lokal untuk memenuhi standar mutu berkelanjutan,
  8. Hibah BKKBN Pusat Tahun 2017: Pengaruh pemberdayaan kader gemari terhadapat pengetahun,sikap ibu usia remaja dalam perencanaan keluarga di Kabupaten Bengkulu Tengah Tahun 2017
  9. Hibah BKKBN Pusat Tahun 2018: Model hubungan usia pernikahan dan kehamilan usia remaja dengan kejadian stunting pada balita dan analisis kebijakan pendewasaaan usia perkawinan di Provinsi Bengkulu;
  10. Hibah Internasional: Hibah Neys-Van Hoogstragen Foundation (NHF) Tahun 2015 Determinan factors of vitamin D status of female worker at childbearing age.
  11. Hibah Internasional: Hibah Neys-Van Hoogstragen Foundation (NHF) Tahun 2016 ; Income contribution, food consumptionIron deficincy anemia among women worker in Tea plantation an effect ol multinutriens supplement with nutrition education to increase their productivity
  12. Hibah Internasional ; Hibah Neys-Van Hoogstragen Foundation (NHF)  Tahun 2017: Identification , preferensi and nutritional contribusi of traditional food  in the consumption pattern of households of farmers and fisherman in Bengkulu.

Berdasarkan capaian di atas, maka disadari akan pentingnya keberadaan suatu organisasi CoE (Centre of Excellence) atau Pusat Unggulan IPTEKS yang menaungi aktifitas yang berkaitan dengan upaya penanggulangan stunting. Selain itu Surat Keputusan Gubernur Bengkulu Nomor: 316 DINKES Tahun 2018 tentang Pembentukkan Kelompok Kerja Daerah Skrining Bayi Baru Lahir Provinsi Bengkulu merupakan salah satu bentuk dukungan kebijakan Pemerintah Provinsi Bengkulu dalam penanggulangan stunting melalui skrining hipertiroid congenital, oleh karena itu Poltekkes Kemenkes Bengkulu membentuk kelompok kerja dalam penanggulangan stunting. Mengingat upaya pencegahan stunting dimulai dari 1000 hari pertama kehidupan melalui pengelolaan kesehatan ibu hamil, peningkatan kesehatan pada masa bayi dan balita serta anak remaja dalam rangka persiapan menjadi ibu. Penanggulangan stunting dapat dilakukan melalui perawatan kesehatan ibu sepanjang daur kehidupan melalui persiapan remaja puti sebagai calon pengantin, pada masa 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) melalui pemberian ASI Ekslusif, penyediaan lingkungan sehat, MP ASI berkualitas, makanan yang cukup dan berkualitas serta perilaku hidup bersih dan sehat.

Tujuan Pengembangan

Tujuan yang ingin dicapai dengan dibentuknya Pusat Unggulan Ipteks Poltekkes Kemenkes Penanggulangan Stunting Berbasis Kesehatan Ibu dan Anak adalah untuk mengakomodir semua kegiatan penelitian dan penerapan teknologi terkait penanggulangan stunting berbasis Kesehatan Ibu dan Anak serta menginventarisir semua capaian/temuan yang dilakukan oleh peneliti dari Indonesia

Kondisi yang diharapkan sebagai PUI-PK

Dengan adanya PUI-PK atau CoE, maka diharapkan dapat mengakomodir penanggulangan stunting, para peneliti dapat berkolaborasi memanfaatkan teknologi dengan tepat sasaran karena adanya mitra dan jejaring hingga mencapai tujuan SDGs yaitu  menurunkan prevalensi stunting 20 % pada tahun 2030